Klub Pustakawan : Baca, Tulis dan Berbagi

Weeding perpustakaan

Apakah weeding itu?

Weeding atau penyiangan merupakan salah satu kegiatan dalam proses pengembangan koleksi yang dilakukan di perpustakaan terhadap koleksi yang dianggap tidak lagi sesuai dengan perpustakaan saat itu.

imageKoleksi buku yang terus bertambah dan menyisakan space yang semakin sedikit tentunya akan menyulitkan pustakawan dan juga pemustaka dalam menelusuri koleksi di rak, terutama untuk perpustakaan yang ukurannya tidak terlampau besar.

Jika perpustakaan menjadi penuh sesak dan jarak antar buku di rak sangat rapat, akibatnya buku akan sulit saat diambil dan bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada halaman juga cover buku. Ini juga terjadi pada tugas akhir seperti skripsi yang ketika diserahkan oleh mahasiswa yang baru lulus jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Sementara untuk menambah rak dan ruangan masih belum bisa dilakukan.

Sehingga di beberapa perpustakaan saat ini sudah menerapkan pengumpulan skripsi tercetak dan juga versi digitalnya. Lalu bagaimana dengan skripsi yang sudah ada puluhan tahun sebelumnya? Nah, itulah yang sekiranya bisa dilakukan weeding atau penyiangan setelah isi dari skripsi tersebut di-scan terlebih dulu.

Tapi jangan harap bisa sembarangan melakukan weeding, alias menyiangi koleksi secara sembarangan. Ada berbagai tahap dan syarat sebelum melakukan weeding.

Menurut Jeanette Larson (2012), koleksi yang masuk dalam kategori dapat di-weeding di antaranya yaitu:

Poor content

old-books-436498_640.jpgPoor appearance

Unused materials

Kategori tersebut hanyalah sebagian dari persyaratan yang ada untuk dapat dilakukan weeding. Dibutuhkan kerja sama dari seluruh staf perpustakaan mengenai pemilihan koleksi mana saja yang dapat di-weeding. Pustakawan juga harus menguraikan 5W1H sebelum melakukan weeding. Sehingga jika weeding dilakukan secara tepat sasaran maka kegiatan tersebut akan benar-benar memiliki banyak manfaat untuk perpustakaan di masa yang akan datang.

Sumber:

Larson, Jeanette. 2012. Crew: a weeding manual for modern libraries. Texas: Texas State Library and Archives Commission


See all posts »

Stock opname perpustakaan

Stock opname perpustakaan merupakan kegiatan pemeriksaan koleksi perpustakaan yang ada di rak secara keseluruhan dengan data yang dimiliki perpustakaan. Atau dengan kalimat sederhana yaitu pengecekan ulang seluruh koleksi yang dimiliki perpustakaan. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara rutin dalam jangka waktu tertentu misalnya setiap 1 tahun sekali.

image

Perpustakaan yang sedang melakukan stock opname biasanya tidak membuka layanan koleksinya secara open access untuk sementara. Namun ada juga perpustakaan yang menerapkan tutup selama kegiatan stock opname berlangsung.

Contohnya saja pada perpustakaan universitas, stock opname dilakukan saat libur semester ketika kecenderungan pengunjung untuk datang ke perpustakaan hampir tidak ada. Sementara perpustakaan tetap buka bagi pemustaka yang sedang mengerjakan skripsi. Rak koleksi yang sedang dilakukan stock opname biasanya ditutup atau diberi tanda dilarang masuk. Sehingga untuk bisa mengambil koleksi pemustaka harus meminta bantuan pustakawan.

Saat stock opname biasanya akan ketahuan buku-buku yang hilang, rusak, tidak pernah dipinjam, hingga buku yang belum dikembalikan oleh pemustaka. Selama stock opname pustakawan dibagi tugas mengecek koleksi pada rak yang sudah ditentukan. Karena membutuhkan energi dan tenaga yang cukup besar serta kondisi fisik yang prima, biasanya perpustakaan memberikan tambahan honor dan menyediakan snack untuk pustakawan selama stock opname. Ada pula perpustakaan yang memberikan vitamin, suplemen, dan susu gratis untuk pustakawan. Ada baiknya perpustakaan juga meminta bantuan cleaning service untuk membersihkan debu-debu yang berada di rak terlebih dulu dengan alat kebersihan sebelum stock opname dimulai dan pustakawan berada di rak seharian.

Berikut adalah contoh langkah-langkah melakukan stock opname secara manual:

  1. Mencetak keseluruhan data koleksi yang dimiliki perpustakaan
  2. Membagi jatah pemeriksaan untuk setiap pustakawan dan asisten pustakawan
  3. Rapikan susunan buku di rak terlebih dulu berdasarkan nomor kelasnya (shelving)
  4. Bawalah daftar koleksi yang sudah dicetak dan mulai cocokan dengan koleksi buku yang ada di rak
  5. Beri tanda pada koleksi yang ternyata tidak ditemukan, rusak, atau salah label.
  6. Cobalah untuk mencari koleksi yang belum ditemukan di tempat lain karena adanya kemungkinan salah penempatan, sebelum koleksi tersebut benar-benar diberi status “hilang”
  7. Buatlah laporan koleksi yang hilang, rusak, kondisi lainnya.

Adapun hal-hal yang wajib dicek oleh pustakawan saat memeriksa buku satu demi satu di rak (point no.4 di atas), yaitu:

1. Kondisi fisik koleksi.
Jika kondisi fisik koleksi rusak seperti jilidan lepas, sampul dan halaman robek, label tidak lagi terbaca, atau terdapat kutu pada buku maka pustakawan wajib mengeluarkan koleksi tersebut dari rak dan meletakkannya di tempat yang sudah diberi label yang sesuai dengan masalah yang ada. Nantinya keseluruhan koleksi dengan masalah yang sama (misalnya sama-sama rusak jilidannya) akan berkumpul di satu meja dan memudahkan untuk diperbaiki.

image

2. Label salah
Pustakawan tentu tidak luput dari kesalahan. Ada kalanya label yang tertera pada punggung buku ternyata tidak sesuai dengan data buku di OPAC. Jika ditemukan kesalahan seperti ini maka koleksi tersebut juga wajib dikeluarkan dari rak lalu dikumpulkan menjadi satu.

3. Tahun terbit koleksi
Jika sebuah perpustakaan memiliki kebijakan mengenai tahun terbit sebuah koleksi maka bisa saja koleksi yang sudah terbit 20 tahun lebih dan setelah diteliti lebih jauh koleksi tersebut hampir tidak pernah digunakan oleh pemustaka karena isinya tidak sesuai, maka pustakawan bisa mengeluarkan buku tersebut dari rak.

Contohnya saja buku-buku mengenai komputer dan teknologi akan cepat sekali berubah dan berkembang. Perpustakaan akan berpikir ulang apakah masih memerlukan koleksi buku yang isinya mengenai “Panduan menggunakan Microsoft Word tahun 1997.”

Nantinya kebijakan perpustakaan lah yang menentukan apakaimageh akan dilakukan weeding atau penyiangan pada koleksi yang tidak lagi sesuai dan tidak mutakhir.

Koleksi-koleksi yang masih dibutuhkan namun kondisi fisiknya sudah tidak baik lagi juga bisa di-scan dan diubah menjadi koleksi digital sementara koleksi tercetaknya di-weeding karena tidak lagi dibutuhkan. Dengan catatan koleksi tersebut bukan tergolong manuscript atau buku langka.

 

*Ditulis berdasarkan pengalaman stock opname di perpustakaan tempat bekerja selama 2010-2015.


See all posts »

Perpustakaan di film Harry Potter

Perpustakaan memegang peranan yang penting tidak terkecuali pada novel Harry Potter. Di novel tersebut perpustakaan menjadi tempat Harry, Ron, dan Hermione menghabiskan waktu untuk mencari-cari informasi mengenai Nicholas Flamel pada buku seri pertama, mencari informasi apa saja yang bisa membuat Harry bernafas di air pada buku ke-4, dan juga banyak lagi cerita dalam novel yang mengambil setting di perpustakaan.

“Dia duduk bersama Hermioone dan Ron di perpustakaan, sementara di luar matahari terbenam, membuka halaman demi halaman buku mantra dengan panik, saling tersembunyi di balik tumpukan buku di depan mereka masing-masing.” ~ Harry Potter dan piala api, hlm. 583.

Di perpustakaan Hogwarts tersebut juga terdapat seksi terlarang yaitu area rak yang hanya boleh dimasuki oleh siswa yang tingkatannya lebih besar dan untuk memasukinya harus memiliki izin tertulis dari guru terlebih dulu karena koleksinya yang “berbahaya”.

Pada film yang diadaptasi dari novel tersebut, terpilihlah Bodleian Library sebagai perpustakaan Hogwarts. Yaitu lebih tepatnya mengambil lokasi syuting di Duke Humfrey’s library reading room. Bodleian Library terletak di Broad Street, Oxford OX1 3BG.

Sebagai yang paling pintar, Hermione adalah yang paling sering berkunjung ke perpustakaan. Jika tidak ada di antara Ron dan Harry, hampir bisa dipastikan keberadaan Hermione yaitu di perpustakaan.

“Rupanya dia menganggap ketidaksanggupan perpustakaan untuk memberikan informasi yang berguna dalam masalah ini sebagai penghinaan pribadi. Perpustakaan belum pernah mengecewakannya selama ini.” ~ Harry Potter dan piala api, hlm. 584.

 

image

image

When in doubt, go to the library.~Hermione Granger.

Sumber gambar dari Google.


See all posts »

Review softbook untuk bayi

Softbook atau buku kain sangatlah cocok digunakan sebagai pengenalan buku terhadap batita dan juga bayi.

Bahannya yang ramah anak memungkinkan buku jenis ini aman “dibaca” oleh bayi sekalipun. Berikut adalah review beberapa softbook atau buku kain:

1. Anne Wilkinson dari JellyCat seri Funny feet

image

Ide isi softbook ini bagi saya menyenangkan karena mengenalkan bentuk dan warna kaki hewan dengan penyampaian yang cukup unik. Meski hanya terdiri dari 4 halaman tapi tak mengurangi esensi dari softbook tersebut. Ditambah lagi buku kain ini berbunyi kresek-kresek setiap diremas sehingga membuatnya semakin menarik.

image

2. Baby book hanging bed

image

Tipe ini bukan terdiri dari halaman seperti buku pada umumnya. Bentuknya memanjang dan hanya menampilkan bentuk serta warna. Dibuat memanjang karena memang didesain untuk dipasang pada tepi box bayi. Pada bagian muka ada buah labu atau jamur yang bisa dilepas dan berbunyi jika ditekan untuk melatih motorik anak.

image

3. Softbook dari Softplay.inc

Ada berbagai tema yang dikeluarkan softbook ini. Punya kami bertema domba yang terdiri dari 4 halaman yang bertujuan mengenalkan lawan kata. Seluruhnya disampaikan dengan bahasa Inggris. Jika digoyangkan softbook ini juga berbunyi gemerincing.

image

4. Softbook buku pertamaku

image

Softbook ini dibuat oleh Indonesia dan terdiri dari berbagai seri. Pada softbook mengenal warna ini, di dalamnya terdapat gambar-gambar dengan warna-warna dasar dan eye catching untuk anak.

image

Ada pengalaman lain dengan softbook? Yuk, kenalkan buku pada anak sejak dini!


See all posts »

Apa yang kamu kenakan?

Mendapat ide dari tumblr yaitu adanya tagar #WhatLibrarianWore, maka ini adalah style dari salah satu pustakawan kami sehari-hari.

She choose to not use heels but flat shoes and ankle boots.

image


See all posts »

Ruang perpustakaan

Ruang-ruang yang ada di dalam perpustakaan terbagi-bagi berdasarkan fungsinya masing-masing. Ruangan ini hadir karena adanya kebutuhan dalam sebuah perpustakaan. Berikut adalah beberapa jenis ruang yang pada umumnya tersedia di sebuah perpustakaan:

Ruang baca menjadi tempat utama bagi sebuah perpustakaan. Di ruangan ini biasanya disediakan meja dan kursi tempat para pemustaka bisa leluasa membaca buku yang mereka cari, atau juga mengerjakan tugas. Ruang baca idealnya memiliki penerangan yang baik. Untuk perpustakaan yang memiliki akses terbuka atau open access, ruang baca bisa saja terletak berdekatan dengan rak buku. Sementara untuk perpustakaan yang memiliki akses tertutup atau close access, ruang baca biasanya diberikan sekat atau pembatas karena pemustaka tidak bisa mencari sendiri bahan pustaka yang ia butuhkan.

Perpustakaan Universitas Al Azhar Indonesia

Perpustakaan Universitas Al Azhar Indonesia

Perpustakaan ITB, Bandung

Perpustakaan ITB, Bandung

Ada kalanya sebuah sudut di ruang baca tidak dilengkapi dengan meja atau kursi tetapi karpet atau sofa agar pemustaka lebih leluasa membaca. Ini biasanya juga dimaksudkan agar perpustakaan lebih cozy dan tidak kaku.

Perpustakaan ITB, Bandung

Perpustakaan ITB, Bandung

 

Warung Baca Lebak Wangi, Bogor

Warung Baca Lebak Wangi, Bogor

 

Selain menyediakan bahan pustaka yang dibutuhkan, perpustakaan juga berfungsi sebagai tempat berkumpul dan terciptanya pertukaran ide serta informasi dari setiap pemustaka. Untuk itu, seringkali perpustakaan menyediakan ruang yang berfungsi khusus untuk kelompok pemustaka berdiskusi atau mengadakan sebuah pertemuan.

Di sini biasanya disediakan sarana seperti meja diskusi, whiteboard, spidol, dan sebagainya. Ada perpustakaan yang membuka layanan ruang diskusi secara terbuka, ada pula ruang diskusi yang harus dipesan terlebih dahulu.

Biasanya ruang studi ditujukan untuk pemustaka yang sedang mengerjakan sebuah tugas akhir seperti skripsi, tesis, dan disertasi, ataupun juga peneliti yang sedang membuat penelitian, penulis yang sedang mencari inspirasi untuk tulisannya, dan lain sebagainya yang membutuhkan ruangan khusus.

Tidak semua perpustakaan menyediakan layanan ruang studi ini, penerapan peraturannya pun berbeda-beda antara satu dan yang lainnya apakah menerapkan sistem sewa dengan biaya tertentu atau tidak. Ruangan ini biasanya didesain dengan suasana yang tenang dan bahkan ada juga yang kedap suara. Ada juga ruang studi yang boleh digunakan oleh siapa saja namun karena letaknya yang berada di lingkup karya penelitian skripsi, tesis, ataupun disertasi maka ruang ini lebih banyak digunakan oleh para mahasiswa tugas akhir.

wpid-2013-11-29-16.07.45.jpg

Mirip seperti ruang diskusi, ruang untuk meeting atau presentasi ini ditujukan untuk sekelompok pemustaka yang ingin melaksanakan sebuah rapat khusus atau presentasi di antara kelompoknya. Ruangan ini biasanya dilengkapi dengan meja, kursi, papan tulis atau whiteboard.

Meski cakupan taman merupakan bagian eksternal dari sebuah perpustakaan, namun fungsinya sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari sebuah gedung menambah fungsi kehijauan, memberikan estetika, dan juga sebagai tempat pemustaka berkumpul dan berkreasi tanpa terbatas ruang.

Taman melingkar perpustakaan UI, Depok

Taman melingkar perpustakaan UI, Depok

Berlatih biola di taman melingkar perpustakaan UI, Depok

Berlatih biola di taman melingkar perpustakaan UI, Depok

Masing-masing tempat di atas bisa berbeda-beda nama dan penyebutannya. Tidak semua perpustakaan pun memiliki seluruh ruang di atas, karena bergantung pada desain tata ruang gedung perpustakaan, kebutuhan pemustaka, tentunya cakupan luas bangunan, keputusan pengampu kebijakan, serta budget yang dimiliki sebuah perpustakaan.

Ada lagi ruang di perpustakaanmu? Yuk, ditambahkan!

*Foto merupakan dokumentasi pribadi penulis


See all posts »

Pengenalan buku sejak dini

Untuk menumbuhkan minat dan kecintaan seorang anak terhadap buku dan aktivitas membaca, mengenalkan buku pada anak sangat penting dilakukan sejak usia sedini mungkin. Meski seorang anak (dan juga bayi) belum bisa membaca atau bahkan mengenali huruf, namun pengenalan buku dan aktivitas membaca  sudah bisa diterapkan, bahkan sejak masih di dalam kandungan.

Membaca buku pada usia dini ini tentu bukan berarti memaksakan mereka untuk bisa membaca huruf dan deretan kalimatnya, namun mengenalkan buku dan isinya melalui kegiatan read aloud. Ayah, ibu, kakak, adik, atau anggota keluarga lain membacakan buku untuk anak dan bersama-sama membuka satu demi satu halaman buku tersebut.

image

» More »


See all posts »

Perpustakaan? Titik… titik..

A good library will never be too neat, or too dusty, because somebody will always be in it, taking books off the shelves and staying up late reading them.

~Lemony Snicket~

Pernahkah kalian berkunjung ke perpustakaan? Menelusuri lorong di antara rak yang dipenuhi dentuman ilmu pengetahuan, yang ditulis oleh berbagai generasi melalui proses peleburan kata dan pemikiran yang demikian panjang. Lalu menarik buku, dengan beragam sampul, dari deretan ilmu tak terhingga yang berjejalan di rak, kemudian tenggelam dalam lautan euforia setiap hurufnya.

Pernahkah? Atau bahkan menoleh ke perpustakaan pun tidak?

» More »


See all posts »

Subscribe: rss | email | twitter | +