Klub Pustakawan : Baca, Tulis dan Berbagi

10 Trik Menciptakan Perpustakaan Pribadi di Rumah

Kini, perpustakaan pribadi di rumah tak lagi milik para ilmuwan yang gemar mengoleksi buku serta jurnal mereka saja. Pada era entrepreneurship seperti sekarang ini, perpustakaan pribadi juga layak menghiasi rumah entrepreneur. Tak hanya berfungsi sebagai ruang menyimpan sejumlah buku, perpustakaan pribadi juga dapat berfungsi sebagai ruang kerja yang nyaman serta tempatrelaxing untuk menghilangkan penat. Lalu bagaimana menciptakan perpustakaan pribadi seperti itu di rumah? Berikut adalah tipsnya seperti dikutip dari lamaneHow.

  1. Lokasi: tergantung layout serta luas rumah Anda. Pilih area yang tak sering dilalui orang. Sebuah ruang yang ideal dengan akses pintu menuju kamar tidur Anda atau ke taman yang sejuk.
  2. Jumlah buku: konsep perpustakaan pribadi masing-masing orang bisa berbeda. Sebagian ingin perpustakaan yang bisa menyimpan semua buku-buku mereka, sementara sebagian ingin perpustakaan yang terlihat tenang dan damai. Sebelum membangun perpustakaan pribadi, hitung dahulu total keseluruhan buku yang Anda miliki lalu tentukan konsepnya. Apakah rak besar yang menjunjung tinggi hingga ke langi-langit diperlukan atau tidak. Jika ruang Anda terbatas, lebih baik pakai rak buku yang menempel di dinding dengan sentuhan modern.
  3. Warna: desain interior kuno akan memakai sentuhan warna gelap seperti misalnya cokelat tua, burgundy atau hijau army. Sementara desain modern lebih cenderung memakai warna-warna terang yang cerah. Untuk menentukan warna yang tepat bagi perpustakaan pribadi Anda, pilihlah yang sesuai dengan kepribadian Anda atau keluarga.
  4. Furnitur: ciri khas perpustakaan adalah tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Dalam menentukan tempat duduk di perpustakaan Anda, perhatikan pula luas ruang yang tersedia sehingga turut pula menentukan jumlah dan jenis kursi serta furnitur lain seperti lampu, meja, sofa dan sebagainya. Jika perpustakaan itu ditujukan untuk sebagian orang, lebih baik jumlah kursinya tak terlalu banyak.
  5. Rak buku: pastikan rak buku Anda memiliki tingkat keamanan tinggi. Jika memakai rak gantung yang menempel di dinding, pastikan rak itu terpasang dengan baik untuk menghindari kerusakan akibat tak mampu menahan bobot buku Anda yang begitu banyak. Anda bisa menyewa tenaga konsultan untuk membuatnya.
  6. Ruang kerja: jika ingin menyatukan perpustakaan dengan ruang kerja, rinci lagi perlengkapan yang diperlukan berdasarkan fungsinya dalam penataan ruang perpustakaan tersebut. Di mana sebaiknya meletakkan meja kerja untuk tempat komputer, printer, mesin faks, telepon dan lainnya. Apakah ruangannya cukup? Dan dengan begitu banyak perangkat kerja, apakah Anda bisa menemukan kenyamanan dalam membaca? Pikirkan kembali sebelum memutuskan.
  7. Pencahayaan: sepanjang berkenaan dengan indera penglihatan, cahaya sangat penting di dalam perpustakaan. Pada siang hari, dengan sinar matahari yang masuk dari jendela, cahaya yang diperlukan dalam perpustakaan itu mungkin akan mencukupi. Pada malam hari, lampu duduk, lampu pajang atau lampu di langit-langit bisa membantu membentuk pencahayaan yang memadai.
  8. Lantai: sama pentingnya dengan kondisi tembok rumah, lantai juga memegang peran penting ketika merancang perpustakaan. Jika dinding rumah berkaitan dengan rak, lantai berhubungan dengan bobot lemari buku serta kursi dan meja. Jika rumah Anda berlantai dua dan belum yakin di mana menentukan lokasi perpustakaan, apakah di lantai dasar atau lantai dua, lebih baik konsultasikan terlebih dahulu dengan konsultan.
  9. Vertikal: bila ruang yang tersedia sempit, atasi dengan penataan buku secara vertikal yakni memakai rak atau lemari yang menjulang tinggi untuk menyimpan buku.
  10. Pemandangan: walau dirancang untuk menciptakan kesan tenang dan damai, perpustakaan tak sebaiknya berada di sudut terpencil. Membaca dengan ditemani panorama yang indah akan lebih menyenangkan dan membuat pikiran segar kembali. Pemandangan taman dengan bunga dan daun hijau nan indah selain menyokong cahaya alami dari sinar matahari di waktu siang juga memberi efek kenyamanan serta ketentraman yang natural pula. [sacafirmansyah]

See all posts »

Catatan Hari Kunjung Perpustakaan: Antara Perpustakaan, Pustakawan dan Masyarakat

Hari Kunjung Perpustakaan, ada ya kak? Hehe, aku yang mahasiswa Ilmu Perpustakaan ajah baru tahu lho kak…

Ya, sebagian besar masyarakat Indonesia barangkali tidak banyak yang mengetahui bahwa 14 September adalah Hari Kunjung Perpustakaan. Adanya Hari Kunjung Perpustakaan ini dapat dikatakan memiliki tujuan untuk membangun kedekatan antara perpustakaan dengan masyarakat, menciptakan masyarakat yang gemar membaca dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Berbicara mengenai kedekatan antara masyarakat dengan perpustakaan memang masih banyak yang perlu dibenahi. Hingga saat ini, minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan masih dikatakan rendah. Rendahnya minat berkunjung ke perpustakaan hampir selalu dikaitkan dengan rendahnya minat baca masyarakat. Namun demikian, perlu dipertanyakan pula bagaimana dengan perpustakaannya sendiri, apakah memang penting untuk sering dikunjungi?
Fungsi Perpustakaan dan Peran Pustakawan
Baiklah, kesampingkan dahulu pertanyaan tersebut. Kita masuk pada fungsi perpustakaan sebagai tempat belajar sepanjang hayat bagi masyarakat di sekitarnya. Perpustakaan merupakan tempat bagi masyarakat untuk belajar secara mandiri dalam menjawab permasalahan kehidupan dan mengembangkan kualitas hidupnya. Perpustakaan sebagai tempat belajar sudah dipahami berbeda dengan sekolah. Perpustakaan sebagai sarana belajar non formal membebaskan peserta belajar dalam memenuhi kebutuhannya akan pengetahuan, sedangkan sekolah tentunya telah mempunyai kurikulum untuk peserta belajar.
Dari perbedaan di atas, tentulah disadari pula bahwa dalam mencerdaskan masyarakat di sekitarnya pustakawan bukanlah guru yang memerankan peran utama dalam mentransfer pengetahuan kepada peserta belajar. Akan tetapi, pustakawan dapat menjadi fasilitator dalam proses belajar. Dimana pustakawan dapat menumbuhkan dorongan dalam diri peserta belajar/masyarakat keinginan untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui.
Jika peran pustakawan sebagai fasilitator dalam proses belajar bagi masyarakat disepakati, selanjutnya di dalam penyelenggaraan perpustakaan peserta belajar/masyarakat juga perlu dilibatkan. Hal ini dikarenakan berdirinya perpustakaan tidak terlepas dari keinginan masyarakat dalam melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yang memang dibutuhkannya untuk diketahui. Dengan demikian, peran pustakawan adalah menjaga dan memfasilitasi kebutuhan dan keinginan masyarakat tersebut. Pengadaan buku-buku atau koleksi pun dapat dipecahkan bersama-sama antara pustakawan dengan masyarakat melalui kajian bersama mengenai apa-apa yang dibutuhkan itu.
Sederhananya, perpustakaan perlu dikelola secara partisipatif oleh masyarakat dengan adanya fasilitasi dari pustakawan. Hal ini dikarenakan oleh latar belakang keberadaannya sebagai sarana belajar secara mandiri dan sepanjang hayat bagi masyarakat. Kalau ini dapat diterima dan dijalankan dengan baik, maka permasalahan seperti rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan bisa jadi dapat terpecahkan. Karena barangkali pula rendahnya tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan lebih disebabkan oleh penyelenggaraan perpustakaan yang terlalu kaku dan tidak adanya keselarasan antara kehadiran perpustakaan (baik keberadaannya sendiri dan koleksi yang ada) dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Atau dalam bahasa yang lebih lugas, perpustakaan seperti itu memang tidak penting untuk sering-sering dikunjungi. Ini berarti pula bahwa rendahnya kunjungan masyarakat ke perpustakaan tidak selalu harus disimpulkan bahwa minat baca/belajar masyarakat itu rendah.
Mengembangkan Kemampuan Pustakawan
Pustakawan juga merupakan bagian dari masyarakat belajar yang perlu terus-menerus belajar dan berinovasi bersama-sama masyarakat untuk maju dan mengembangkan pengetahuannya. Karena tidak jarang pustakawan kadang justru mandeg dalam belajar atau mengembangkan pengetahuan dan tertinggal dari masyarakatnya. Karena itu, pengetahuan yang penting bagi pustakawan salah satunya adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi diri dan masyarakat terkait dengan kebutuhannya dalam menghadapi berbagai tantangan. Artinya, pustakawan juga perlu mengembangkan diri dalam pengetahuan menggunakan sumber-sumber informasi yang cepat dan tepat.
Pengembangan perpustakaan dengan partisipasi masyarakat juga tidak dapat terlepas dari kemampuan pustakawan dalam melakukan fasilitasi kepada masyarakat. Di dalam memfasilitasi masyarakat tentunya seorang pustakawan perlu mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Di samping itu juga perlu kemampuan menganalisa yang baik tentang berbagai hal yang terkait dengan permasalahan masyarakat belajarnya. Dengan demikian, diharapkan dapat terbangun kedekatan antara perpustakaan dengan masyarakat di sekelilingnya. Dan pustakawan tidak lagi digambarkan seperti gambaran masyarakat awam pada tahun-tahun yang lampau dimana pustakawan selalu diasosiasikan sebagai penjaga buku yang kaku di dalam ruangan berdebu, pendiam, dan tidak ramah. [sacafirmansyah]

See all posts »

Subscribe: rss | email | twitter | +