Perpustakaan? Titik… titik..

A good library will never be too neat, or too dusty, because somebody will always be in it, taking books off the shelves and staying up late reading them.

~Lemony Snicket~

Pernahkah kalian berkunjung ke perpustakaan? Menelusuri lorong di antara rak yang dipenuhi dentuman ilmu pengetahuan, yang ditulis oleh berbagai generasi melalui proses peleburan kata dan pemikiran yang demikian panjang. Lalu menarik buku, dengan beragam sampul, dari deretan ilmu tak terhingga yang berjejalan di rak, kemudian tenggelam dalam lautan euforia setiap hurufnya.

Pernahkah? Atau bahkan menoleh ke perpustakaan pun tidak?

Menurut kamus *The Oxford English Dictionary*, kata “library” atau perpustakaan mulai digunakan dalam bahasa Inggris tahun 1374, yang berarti sebagai suatu tempat buku-buku diatur untuk dibaca, dipelajari atau dipakai sebagai bahan rujukan. Pengertian perpustakaan semakin berkembang sehingga kemudian mengarahkan perpustakaan kepada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustakan; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan; serta tujuan perpustakaan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional. (Wien Muldian)

Buku-buku yang ada di perpustakaan tak didederetkan secara suka-suka atau menurut suasana hati si pengelola. Ia disusun menurut urutan dan nomor kelas tertentu berdasarkan subjek atau isi bukunya untuk memudahkan pengguna. Nomor kelas tersebut disesuaikan dengan kondisi dan koleksi yang dimiliki perpustakaan. Ada perpustakaan yang menggunakan DDC atau Dewey Decimal Classification sebagai tuntunan nomor kelasnya, ada yang menggunakan UDC atau Universal Decimal Classification, ada pula yang hanya menggunakan label warna untuk membedakan subjeknya. Semua disesuaikan agar memudahkan pengguna perpustakaan. Tetapi jikalau pemilik perpustakaan ingin menderetkan bukunya berdasarkan harga buku, tinggi, dan ketebalan buku pun tak masalah jika itu memudahkannya ketika mencari buku yang ia butuhkan.

Namun meski posisi perpustakaan penting dalam ilmu pengetahuan, sayangnya di negara ini keberadaannya masih kurang diperhatikan. Perpustakaan masih dianggap sebagai tempat untuk hanya sekedar menaruh buku, sehingga seolah  mirip dengan gudang buku, bahkan ada juga perpustakaan yang tidak ada bukunya, atau ada bukunya tapi sama sekali tak menarik, dan seolah tak hidup. Hal yang lebih parah adalah ketika sebuah instansi menjadikan perpustakaan seolah sebagai tempat buangan. Misalnya ketika seorang guru atau staf di instansi tersebut dinilai tidak baik dalam bekerja atau melanggar peraturan, maka orang yang bersangkutan diberi sanksi dengan dipindah ke perpustakaan selama kurun waktu tertentu. Fiiuuuh… *peras kain pel

Coba tengok ada berapa sekolah yang memiliki perpustakaan yang layak untuk mendukung kegiatan belajarnya? Dan dengan harga buku yang selangit, kurangnya perpustakaan yang memadai membuat akses masyarakat terhadap buku bacaan atau bahan pustaka yang bermutu semakin terbatas.

Beruntung Sekolah Dasar saya pada waktu itu memiliki perpustakaan, yang meski koleksinya tak sepenuhnya lengkap serta koleksinya tidak baru, namun cukup memadai untuk sarana belajar kami. Biasanya murid yang ruang kelasnya dipakai bergantian dengan murid kelas lain menggunakan ruang perpustakaan untuk menunggu jam pergantian tersebut. Pada waktu-waktu itulah murid-murid tersebut memanfaatkan waktunya di perpustakaan untuk membaca buku. Program kunjungan perpustakaan dari setiap kelas juga dilakukan. Saya tak ingat jadwalnya, namun sesekali masing-masing kelas memiliki waktu kunjung perpustakaan bersama guru atau wali kelas.

Lalu apa sih sebenarnya fungsi perpustakaan itu? Fungsi perpustakaan yaitu sebagai fungsi penyimpanan, penelitian, informasi, pendidikan, dan kultural. Fungsi penyimpanan yaitu perpustakaan bertugas menyimpan buku-buku yang diterimanya. Fungsi penelitian yaitu perpustakaan menyediakan buku-buku untuk keperluan penelitian, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Fungsi informasi yaitu perpustakaan menyediakan informasi yang diperlukan pengguna. Fungsi pendidikan artinya perpustakaan menjadi sebuah tempat belajar yang tak terbatas atau diperuntukan sebagai tempat belajar seumur hidup (life-long learning). Hal ini berkaitan dengan perpustakaan umum di mana penggunanya tidak terbatas pada tingkatan sekolah tertentu atau golongan masyarakat tertentu. Fungsi terakhir adalah fungsi kultural, artinya perpustakaan menyimpan khazanah budaya bangsa atau masyarakat serta meningkatkan nilai dan apresiasi budaya masyarakat melalui pertunjukan boneka, kerajinan tangan, dan sebagainya. (Sulityo-Basuki, 1993)

Menyadari pentingnya perpustakaan, sementara kondisi perpustakaan di Indonesia masih jauh dari memadai, beberapa pihak baik lembaga maupun perseorangan berniat mendirikan perpustakaan secara mandiri atau tidak bergantung pada pemerintah. Mungkin karena istilah “perpustakaan” sudah terlanjur dianggap kaku, tua, jadul, dan tidak modern, sehingga mereka-mereka yang kemudian mendirikan perpustakaan secara mandiri menggantinya dengan nama “taman baca”, “rumah baca”, “rumah pintar”, dan sebagainya. Tapi (bagi saya) fungsinya tetap sama dengan perpustakaan.

“A library is the delivery room for the birth of ideas, a place where history comes to life.”

~Norman Cousins~

Berbicara putar-putar tentang perpustakaan dari sudut pandang sendiri, lalu apa ya komentar masyarakat sendiri tentang perpustakaan? Berikut pencarian iseng saya pada tanggal 27 November sampai 5 Desember 2011 melalui jejaring sosial twitter. Ada pendapat positif, ada juga pendapat negatif tentang perpustakaan. Karena mencari secara acak dan awalnya hanya iseng dicatat saja, saya tidak menyimpan data nama-nama penulisnya 🙁

Coba cari saja, apakah kegalauanmu tentang perpustakaan juga masuk di bawah ini? 😀

“Minat baca saya dikreasikan sedemikian rupa sama ortu sejak TK didaftarin ke perpustakaan TIM dan tiap weekend ke sana. *salah satu didikan berharga ortu.” ~tertulis bahwa ia adalah seorang penerjemah.~

“Ada yang mau nyumbang buku dari lemari bututnya ga sodara? Ni lagi ngumpulin bikin perpustakaan kampung.”

“Sedih rasanya denger perpustakaan tutup.”

“Tempat pertama yang nyaman, tenteram, dan damai adalah masjid. Dan tempat kedua adalah perpustakaan :)”

“Rasanya mau menjelajahi seluruh perpustakaan.”

“Perpustakaan bawaannya kok ngantuk???”

“Kalau mau meningkatkan minat baca ya tingkatkan akses ke perpustakaan. Gratis.” ~tertulis bahwa ia adalah seorang guru~

“Andai Bandung punya perpustakaan umum kaya di luar negeri.”

“Hidup di dunia tanpa menyadari arti dunia ibarat berkunjung di perpustakaan tanpa menyentuh buku-bukunya, bung!”

“Maaf perpustakaan tutup! Kan tanggal merahnya besok? Kenapa dimajuin tutupnya??”

“Ini perpustakaan sekolah kita yang selalu (tidak pernah) ramai.”

“Mainannya sekarang perpustakaan yaa.. Hebat. Seumur hidup gue baru sekarang masuk perpustakaan. Haha.”

“Alhamdulillah punya perpustakaan pribadi di rumah, biarpun buku-bukunya masih sedikit.”

“Kenapa perpustakaan nggak ada bukunya? :(”

“Kalo lagi ngetik gini… pengin nginep di perpustakaan… beneran deh.”

“Ini adalah moment di mana perpustakaan rumah jadi terlihat pewe sekali.”

“Peran perpustakaan tidak akan pernah berhenti untuk menyediakan dan menyebarkan informasi untuk penemuan dan pengembangan ilmu-ilmu baru.” ~tertulis bahwa ia adalah mahasiswa ilmu perpustakaan UNDIP~

“Seneng liatnya perpustakaan jaman aku kecil dulu sekarang jadi keren banget gedungnya di Tjg Duren, ada mobil internet kelilingnya juga. Hebat. Salut.”

“Di perpustakaan selain bisa nambah wawasan juga bisa sebagai tempat peristirahatan, karena ACnya semriwiiiiing…”

^^^^^^^^^^^^^^

“I have always imagined that Paradise will be a kind of library.”

~Jorge Luis Borges~

*tulisan dibuat tanggal 4 Desember 2011

Referensi:

Sulistyo-Basuki. (1993). Pengantar ilmu perpustakaan.Jakarta: Gramedia.

Wien Muldian. (2008). Perpustakaan, pembelajaran, dan kita. Disampaikan pada Pelatihan Optimalisasi Perpustakaan Sekolah dan Taman Baca untuk Lingkungan Sekitar, Jumat, 11 Juli 2008 di Silaturahmi Nasional FLP ke-2, Juli 2008

One Reply to “Perpustakaan? Titik… titik..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *